Sajak Senja Ba’da Magrib
Sore hari selepas Maghrib menjelang Isya,
Kumerenung, kuberfikir, kumencari
Ada sesuatu yang kurang dari kehidupan ini
Terbersit sosok ayah yang jauh dipelosok sana…
Ku teringat nasehat yang selalu dan tak bosan di ucapkan untuk anaknya
Jangan lupakan sholat, baca Alquran, jangan sekali-kali lupakan sholatmu nak
Wajah tirus yang terbakar matahari, sosok yang renta namun terlihat sangat kokoh dimataku
Terbayang jelas dengan suara teduh yang tak bosan kudegarkan
Ada satu pesan yang terakhir ku dengarkan darinya
Carilah, temukanlah, suntinglah
Sebagai pelengkap serparuh Dienmu, kau sangat menghormati Nabimu kan?
Nabi yang memberi penerangan bagi seluruh umatnya.
[Monolog orang tua pada bujangnya]
Ayah Ibumu telah mempunyai pilihan jika ananda mau
Pilahan yang baik nasab, pendidikan dan bekal Diennya
Namun, pilhan terakhir ada padamu nak… ayah bundamu hanya manut
Karena dia yang akan menjadi pelengkapmu sampai akhir
Satu yang ayah bundamu minta, jangan menunda terlalu lama
Apalagi yang kau cari nak? Tak ada orang yang sempurna
Seperti yang pernah kami dongengkan padamu
Lekaslah… kami baru bisa senang jika ananda senang
Kita bicarakan lagi nanti pada bulan Syawal ketika engkau sowan ke ayah bundamu nak…
Depok, 17 Mei 2009